Nahh,, ini cerpen kedua gw tapi yang pertama kagak gw post, mungkin temen gw ada yang uda baca kali ya?? Gtau dah kalo emank jelek mohon kritik n` sarannya atuhh,,, thanks n
_Happy Reading_
“Aaaaaaaa........ sepertinya aku memang
sudah gila.” teriak Fay sambil memegangi kepalanya dan melempar tubuhnya ke
kasur.
“Fay, kamu kenapa teriak-teriak gitu? Kedengeran tetangga gak baik lho,sayang.” Tegur Mama dari dapur.
“Eh iya,
Ma. Maafin Fay ya.” Teriak Fay dari kamar.
Mama Fay
hanya tersenyum dan menghampiri Fay di kamar.
“Ma, Fay
kok sekarang ngerasa lemes terus ya?. Terus dada sebelah kiri Fay makin sakit.”
Cerita Fay pada Mamanya.
“Apa kamu
minta diperiksa ke dokter,sayang?” tanya Mama dengan khawatir.
“Enggak,Ma.
Fay pasti sehat kok. Mama gak usah khawatir ya?” hibur Fay dengan tersenyum.
“Ya udah
kalo gak apa-apa. Kalo masih capek, kamu tidur dulu aja.” perintah Mama sambil
menutup pintu kamar Fay.
“Oke,Mama.”
Ujar Fay.
~~~~
“Kriiiiiiiiinnnnnggggg.........”
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 dan Fay
belum juga bangun dari tidurnya.
“Huaaaaaaaaaaaaaaahhhh...
Jam berapa sih ini. Aist,, nih jam berisik banget sih. Haaaaaaaahhh.... Udah
jam segini??? Mampus gue, hari ini kan pelajaran Bu Erna.” Teriak Fay sambil
melototi melihat jam bekernya.
Akhirnya
dengan cepat Fay mandi kilat nggak peduli dengan shampo yang masih nempel di
rambutnya.
“Ma, Fay
pamit dulu yah. Oh ya, Papa mana,Ma?” pamit Fay dengan mencium tangan Mamanya.
“Papa tadi
udah berangkat. Eh sayang, kamu kok acak-acakan gitu?” tanya Mama heran.
“Udah
telat nih,Ma. Doain Fay ya, Ma.” Teriak Fay dengan berlari.
~~~~
Secepat
mungkin Fay berlari seperti atlet lomba maraton nasional. Maklumlah rumah Fay
dengan SMA Cahaya Bangsa yang tak lain adalah sekolahnya cukup dekat.
“Aist...
Bener dugaan gue. Yes!!!” ucap Fay gembira.
Dan ketika
Fay masuk kelas, kontan teman sekelasnya menertawakan Fay tak ada habisnya. Fay
yang baru datang hanya bingung dan
salting melihat ulah teman sekelasnya. Karena penasaran, Fay pun bertanya pada
salah satu temannya.
“Eh,
kenapa sih anak-anak pada ngetawain gue?” tanya Fay dengan perasaan bingung.
“Gimana
kagak ketawa liat penampilan loe yang kucel kayak gitu. Ngaca dulu deh! Gue jamin loe juga ikutan kaget.”
“Bentar.
Pinjem cermin punya loe donk” jawab Fay.
“Aaaaaaaaaaaaaaa.......
Aist, apaan nih? Shamponya belum ilang. Mana pake acara kancing baju gak bener
gini pula.” Teriak Fay histeris melihat penampilannya.
Mendengar
teriakan histeris dari Fay, teman sekelasnya pun makin tertawa
meledak-ledak mengabaikan teriakan itu.
~~~~
“Aist, gara-gara bangun kesiangan gue kena
malu banget deh. ” geram Fay sambil berjalan keluar dari kamar mandi usai
membersihkan rambutnya dari shampo tadi.
Tiba-tiba,
“Buuukkkkkk....”
“Eh, sorry gue gak sengaja.” Terdengar
suara cowok sambil memunguti buku yang terjatuh.
“Iya, gak apa-apa kok. Loe bawa buku
sebanyak ini sendiri? Mank mau loe bawa kemana?” tanya Fay yang berusaha
berdiri dengan dibantu oleh cowok tadi.
“Mau gue bawa ke perpustakaan nih. Disuruh
ama Bu Erna.”
“Ou, ya
udah. Sini gue bantu. Kenalin nama gue
Fay kelas XII IPA 1. Loe sendiri siapa?”
“Gue Randy
anak IPA 4. Thanks yah sebelumnya loe udah bantuin gue.”
“It’s
okelah. Yuk, keburu bel.”
~~~~
Semakin
hari Fay dan Randy terlihat akrab dan selalu bersama dimana saja. Namun,
persahabatan yang mereka jalin ternyata tidak dapat berjalan mulus. Fay
merasakan suatu berbeda saat Randy berada di sampingnya dan ia merasa kesepian
jika tidak bersama Randy. Begitu pula dengan Randy, rasa itupun ada setelah
setahun bersama.
Tetapi, sekuat tenaga Randy menepis
perasaan itu. Dia tak mau persahabatannya yang indah itu musnah begitu saja
karena perasaan yang menurutnya sangatlah konyol.Bahkan dia juga tidak tau
bahwa fay juga memiliki perasaan yang sama, sehingga ia takut untuk
mengungkapkan semua itu.
~~~~
Hari kelulusan SMA pun tiba. Dan mereka
berdua lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Namun, sampai saat itu keduanya
belum mampu mengungkapkan perasaan yang terpendam di antara mereka.
“Fay, enggak kerasa ya kita udah lulus.
Rasanya seneng banget udah gak pake seragam lagi.” Ucap Randy dengan nada
ceria.
“Iya tuh. Perasaan baru kemarin kita
kenalan deh. Eh hari ini kita malah udah lulus. Btw, loe mau kuliah kemana nih?
Gue harap kita bisa kuliah bareng kayak sekarang lho.” tanya Fay pelan.
“Sorry, Fay. Gue musti lanjutin study gue
ke Australia.” Jawab Randy sedih.
Kontan Fay tubuh Fay lemas dan dia melihat
dunianya menjadi gelap.
~~~~
“Aku dimana?” tanya Fay saat membuka
matanya.
“Sayang, kamu masih di RS. Kamu harus
istirahat ya. Mama gak tahu kalo kamu selama ini punya kelainan jantung.
Maafin Mama ya, Sayang.” Jawab Mama
dengan menangis.
“Papa dimana,Ma?” tanya Fay lagi.
“Papa masih di Singapore, Sayang. Tapi
Papa segera pulang kok.” Hibur mama
“Randy, Randy mana,Ma? Terakhir Fay liat
Randy,Ma.” Tanya Fay dengan kebingungan.
“Sayang, Randy udah berangkat ke Australia
satu jam yang lalu.” Jawab Mama.
Fay mendengar jawaban Mamanya hanya
menangis dan tertidur lagi.
~~~~
“Fay, maafin aku yang udah ninggalin loe.
Tapi gue gak bakal lupain kenangan kita bahkan rasa cinta gue ke elo. Gue bakal
datang ke elo 4 tahun lagi buat ngelamar loe.” Ucap Randy dalam hati sambil
menahan tangisnya.
~~~~
4
tahun kemudian
Randy pulang ke tanah kelahirannya kembali dengan perasaan yang sama, yaitu
cinta untuk Fay. Dan dia telah membawa cincin yang digunakan untuk melamar Fay
di hari itu juga.
~~~~
Ketika sampai di rumah Fay, dia melihat
rumah Fay begitu sepi tak seperti 4 tahun lalu yang selalu ramai oleh canda
tawa Fay. Lalu Randy memutuskan untuk masuk ke taman rumah Fay yang dulu sering digunakan mereka belajar bersama. Tiba-tiba, ada seseorang
yang menyentuh pundaknya. Randy harap itu adalah tangan Fay. Namun, dugaannya
meleset. Pemilik tangan itu adalah tak lain lagi Mama Fay.
~~~~
“Eh, nak Randy ya? Kapan pulang ke
Indonesia?“ tanya Mama Fay.
“Baru aja tante. Tante kabarnya gimana?”
tanya Randy denga ramah.
“Tante baik kok. Lalu kedatangan nak Randy
kemari ada keperluan apa?” tanya Mama Fay heran.
“Umm.. Saya mau melamar Fay, Tante. Saya
memendam perasaan saya ke Fay sejak SMA,Tante.” Jawab Randy dengan gembira.
“Nak Randy, apa kamu belum tau yang sebenarnya
tentang Fay?” tanya Mama Fay berlinang airmata.
“Memangnya Fay kenapa,Tante.” Tanya Randy
dengan perasaan was-was.
“Ayo ikut Tante naik mobil.” Perintah Mama
Fay.
Dengan
cepat Randy mengikuti Mama Fay dari belakang.
~~~~
Sampailah mereka berdua di sebuah
pemakaman umum.
“Tante, maksudnya apaan sih bawa Randy
kesini?” tanya Randy penuh keheranan.
“Di sinilah Fay terbaring,Nak. Dia
mempunyai kelainan jantung yang akut. Sebenarnya Fay juga mencintaimu,Nak. Dia
bertahan hidup untuk menunggu kepulanganmu dari Australia.Namun, kamu tak
kunjung datang, hingga tiba saat dia sudah tak mampu menahan rindu dan rasa
sakitnya. Tuhan pun memanggilnya tiga tahun setelah kepergianmu.” Cerita Mama
Fay terisak.
“Ini gak mungkin, Tante. Fay anak yang
sehat dan ceria. Ini salah ! Fay belum mati !” teriak Randy menangis .
“Dia memang belum mati, Nak. Karena dia masih
hidup di hatimu. Cobalah relakan Fay,Nak Randy.”
Randy duduk di depan pusara Fay dan
berbisik.
“Fay, benar kata Mamamu. Kau belum mati.
Kau masih hidup di hatiku dan tak kan ada yang menggantikanmu. Aku akan terus
menyayangimu meski kau sudah tak berada di sampingku lagi karena aku yakin
pasti Tuhan kan menyatukan kita di surga nanti.”

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar