Cerbung......
Nah.. Gw lagi ada cerber nih alias cerpen bersambung. Sebenernya ni cerpen gw yang belom kelar karna gw nulisnya di komputer n kelupaan dah. Pas tadi utak atik komputer eh nemu deh cerpen jadul gw. Then, gw panjangin kayak cerber, guys. Halah banyak omong ya gw? Ok langsung aja... Check this out !!! ^_^

Secercah sinar mentari dari ufuk timur membangunkanku.
Terdengar suara ayam jagoku berkokok. Tiba-tiba kulihat jam dinding di kamarku. Dan aku terbelalak melihat jam sudah menunjukkan pukul 05.55 pagi. Dengan cekatan kuambil handuk dan seragam sekolahku. Mandi secepat kilat dan segera ke meja makan untuk sarapan sejenak. Kulihat mama sudah menyiapkan sarapan untuk sekeluarga di meja
Nah.. Gw lagi ada cerber nih alias cerpen bersambung. Sebenernya ni cerpen gw yang belom kelar karna gw nulisnya di komputer n kelupaan dah. Pas tadi utak atik komputer eh nemu deh cerpen jadul gw. Then, gw panjangin kayak cerber, guys. Halah banyak omong ya gw? Ok langsung aja... Check this out !!! ^_^
Pergi Untuk Kembali

Secercah sinar mentari dari ufuk timur membangunkanku.
Terdengar suara ayam jagoku berkokok. Tiba-tiba kulihat jam dinding di kamarku. Dan aku terbelalak melihat jam sudah menunjukkan pukul 05.55 pagi. Dengan cekatan kuambil handuk dan seragam sekolahku. Mandi secepat kilat dan segera ke meja makan untuk sarapan sejenak. Kulihat mama sudah menyiapkan sarapan untuk sekeluarga di meja
“Mama, tadi kok nggak bangunin aku
sih?” Tanyaku protes.
“Sayang, mama tadi kan udah bangunin
kamu tapi kamu malah tidur lagi pas mama tinggal. Hayo, kamu udah rapiin kamar
kamu belum?” Tanya mama.
“Heheh… belum,Ma. Abisnya tadi
buru-buru sih.” Jawabku sambil senyum.
“Ya, udah nanti biar dirapiin Bi Inah
aja. Kamu nggak berangkat? Coba lihat ini sudah jam berapa coba?” Tegur Mama
padaku.
Akupun melirik jam tanganku dan oh
tidak…..jam sudah menunjukkan 06.45. Dengan cepat aku mencium tangan Mama dan
lari menuju mobil karena Pak Bejo sudah menungguku.
“Ma, Ana berangkat dulu, ya?” Teriakku
dari mobil.
“Ya,sayang. Hati-hati ya, jangan nakal
di sekolah dan belajar yang rajin.” Ucap Mamaku dengan tersenyum.
Aku hanya tersenyum, mendengar ucapan
mama karena kurasa mama masih menganggapku seperti anak kecil dan memanjakanku
meski terkadang aku suka itu. Apalagi sejak Papa meninggal tiga tahun lalu
yaitu saat aku duduk di kelas 2 SMP, mama semakin menjagaku dengan ketat meski
di sela-sela kesibukan Mama yang meneruskan perusahaan Papa. Terkadang aku
sedih melihat mama seperti itu. Namun, aku kan selalu menjaga mama seperti
beliau menjagaku.
Kulihat pintu gerbang sudah ditutup
dan itu artinya aku sudah terlambat. Sangat menyebalkan apalagi ini hari Kamis.
Oh tidak…. Hari ini adalah piket Bu Hesti, guru Matematika paling killer dan
disiplin di sekolahku. Begitu pintu gerbang dibuka aku diceramahi Bu Hesti
panjang lebar. Namun, tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh seorang cowok
misterius yang juga terlambat di sebelahku. Ternyata aku tidak terlambat
sendiri dan dia cukup cute.
Kami dihukum membersihkan taman di belakang
sekolah dan kami baru boleh masuk kelas jika taman itu sudah bersih. Akupun
segera membersihkan meskipun malas. Tiba-tiba
ada ular cobra yang menggigit kakiku.
“Aaaaaaaa………..” teriakku.
Dengan
cekatan cowok tadi membuang ular dari kakiku dan dia menghisap bisa mematikan
di kakiku lalu mengikatnya dengan sapu tangan biru dari sakunya. Aku kagum
dengannya, dia merupakan pahlawanku.
“Thanks,ya?” ucapku berterimakasih.
“Sama-sama. Lain kali hati-hati ya?
Nanti istirahat kamu ganti dengan perban dan sebelumnya disterilkan,ya?” jawab
cowok tersebut.
“Ya, makasih. Kenalin aku Ana kelas XI
IPA I. Kamu?” tanyaku dengan memperkenalkan diri.
“Ehm.. Aku Andre anak XI IPA II. Wah..
kelaskita ternyata deket tapi kok aku jarang liat kamu ya?” tanyanya membuka
pembicaraan.
“Heheh.. kalo istirahat aku cuma di
kelas atau kadang ke perpustakaan. Aku bahkan belum pernah liat kamu
sebelumnya. Eh, kok kita jadi ngobrol sih? Nanti nggak masuk kelas lho.”
Tegurku.
“Ya, sekarang kan udah bersih. Yuk
kita minta surat izin masuk kelas dulu.” Ajaknya.
“Ayo.” Jawabku dengan tersenyum.
Setelah itu kami langsung menuju kelas
masing-masing. Aku mendengar penjelasan dari Bu Suci, guru fisika. Fisika
memang memusingkan apalagi kalau sudah bertemu dengan hitung-hitungannya.
Namun, tidak demikian denganku, aku sangat menyukaiku fisika.
Setelah bel istirahat berbunyi, aku ke UKS
untuk memeriksakan kakiku. Dan satu hal lagi yang membuatku terkejut ternyata
Andre juga disitu. Dia ternyata anak PMR dan kebetulan hari ini dia tugas jaga UKS.
Kami saling bercerita tentang satu sama lain. Namun, dia tetap tidak lupa untuk
memeriksa kakiku. Setelah selesai dan bertepatan dengan bel masuk kelas kami
kembali ke kelas bersama dan dia juga memapahku yang berjalan dengan pincang.
Sorenya, dia mengantarku pulang dan
aku mengajaknya mampir ke rumah dulu untuk bertemu dengan mamaku.
“Ma,
Ana pulang.” Teriakku dengan membuka pintu.
“Oh
ya,sayang. Lho ini siapa sayang?” Tanya mama bingung.
“Kenalin,Ma.
Ini Andre temen Ana di sekolah. Tadi Andre nganterin Ana pulang,Ma.” Jelasku.
“Andre,Tante.
“ Andre memperkenalkan dirinya dengan ramah.
“Lho..
kaki kamu kenapa lagi,sayang? Kan udah mama bilang hati-hati kok kayak gini
sih?” Tanya mama dengan cemas.
“Nggak
apa-apa,Ma. Tadi aku terlambat bareng sama Andre terus disuruh bersihin taman
belakang sekolah tapi tiba-tiba ada ular ngegigit kaki Ana,Ma. Tapi untung ada
Andre yang nolongin Ana, Ma.” Ceritaku panjang lebar.
“Makasih
ya,Andre.” Ucap mama berterima kasih ke Andre.
Setelah
pukul 4 sore Andre pamit pulang dan aku mengantarnya sampai di teras rumah.
Melihatnya dari kejauhan dengan motor yang dinaikinya.
Tak
terasa setahun lebih kukenal Andre dan sebentar lagi kami ujian. Dia sering
bermain ke rumahku untuk kerja kelompok atau hanya mampir dan kebetulan saat
kami naik kelas tiga ternyata kami satu kelas.Entah mengapa seiring berjalannya
waktu ada perasaan lain,aku tak tahu apa ini. Namun, tetap menyembunyikan
perasaan ini dan tetap menjaga persahabatan ini.
Ujian
pun telah berlalu, kami tinggal menunggu hasil belajar kami diumumkan di saat
prom night yang akan diadakan minggu depan. Sore ini, Andre mengajakku keluar
dan mama mengijinkanku karena mamaku telah mengenal baik Andre.
“Kamu
nanti mau kuliah dimana dan jurusan apa,Na?” Tanya Andre tiba-tiba saat kami
makan di mall.
“Ehm..
masih bingung,Ndre. Kalo jurusan sih pengennya kedokteran tapi kalo dimana tuh
masih bingung. Mungkin di Jakarta aja deh. Kalo kamu sendiri gimana?” Jawabku
dan tanya balik ke Andre.
“Heheheh…
rahasia dong.” Jawab Andre dengan bercanda.
“Kok
gitu sih? Aku kan udah jawab pertanyaan kamu gantian dong.” Protesku dengan sok
ngambek.
“Hehehe…
nanti kamu bakal tahu sendiri kok. Udah nyiapin baju buat prom night besok?”
tanya Andre mengalihkan pembicaraan.
“Umm…
belum sih. Tapi nanti temenin aku ya.
Mumpung masih di mall.” Ajakku pada Andre.
“Nggak
usah repot-repotlah. Nih aku punya hadiah buat kamu, baju buiat prom night
besok. Harus dipake lho.” Kata Andre dengan memberikan sebuah kotak.
Setelah
kubuka ternyata gaun indah berwarna biru.
“Thanks
banget ya,Ndre.Gaun ini bakal ku pake kok. Aku suka.” Ucapku dengan gembira.
“You
are welcome. Pulang yuk, dah mulai malam lho. Nanti kamu dicariin mama kamu.”
Ajak Andre.
“Ok,
yuk balik.” Jawabku pada Andre.
Malam
ini merupakan malam yang special untuk kami anak-anak kelas XII. Karena di mala
mini kami akan menerima hasil belajar kami selama tiga tahun. Aku memakai gaun
biru pemberian dari Andre kemarin sore sedangkan Andre memakai kemeja putih
dengan jas dan itu membuatnya tampak gagah. Dan saat yang ditunggu-tunggu pun
tiba. Kepala sekolah segera mengumumkan 10 besar peraih nilai tertinggi tahun
ini. Dan itu dimulai dari urutan 10 hingga akhirnya ketiga segera menaiki
panggung.
“Juara
2 diraih oleh Ana Putri Istiqomah ! Kepada Saudari yang bersangkutan diharapkan
maju ke atas panggung.” Ucap Kepala Sekolahku.
Sungguh
aku tak menyangka aku akan menjadi ranking 2 paralel. Dan di saat itu kulirik
Andre yang tersenyum bangga kepadaku. Dalam hatiku aku ingin dia berada di
sampingku saat ini juga di atas panggung dengan penuh penghargaan.
“Dan
kini tibalah saatnya pengumuman Jawara Sekolah kita, Anak-anakku. Pastinya
kalian bisa mengira siapa bukan? Dan peraih nilai tertinggi tahun ini adalah
Muhammad Andrean Syahputra. Silakan kepada Anakku Andre untuk naik ke
panggung.” Ucap Bapak Kepala.
Oh…
Tuhan ternyata benar inginku. Dia berhasil menjadi nomor 1. Aku menangis
bahagia akan hal itu. Dan kulihat Andre berjalan tenang dengan penuh senyum
ramahnya menaiki panggung yang sama denganku.
“Kita
berhasil, bukan?“ Bisik Andre yang membuatku terkaget dari lamunanku.
“Oh..
iya. Selamat ya, sahabatku yang ganteng and konyol.” Ucapku ceria dengan
mengacak-acak rambutnya.
“Eh,
rambutku jangan diacak-acak dong. Tuh bapak Kepala mau kesini kasih Piagam.”
Celetuknya sabil menunjuk Bapak Kepala.
“Iya
iya. Weekkk…” Jawabku dengan menjulurkan lidahku.
~~
~ ~~
Akhirnya
acara prom night selesai dan kami memutuskan untuk bermain ke taman, tempat
favorit kami. Dan tak lupa kami menyalakan kembang api di taman tepi kolam. Dan
di saat itu aku bahagia sekali melihat tawanya yang meledak seperti kembang api
yang kami nyalakan. Dan tiba-tiba dia menarik tanganku dan mencium pipiku yang
tembem. Kontan saja aku terkejut dan penuh tanda tanya.
“Kenapa
kamu cium pipiku??” Tanyaku masih dengan ekspresi terkejut.
“Maafin
aku, Na. Mungkin ini malam terakhir aku bersama kamu.” Jawabnya dengan sedih.
“Kenapa??”
jawabku dengan bingung.
“Orangtuaku
nyuruh aku buat nyusul mereka di Australia.” Jawabnya sendu.
Tanpa
aba-aba aku berlari dan menangis pulang ke rumah. Tak kusangka dia akan pergi
menjauh dariku. Kutengok ke belakang dia mencoba mengejarku, namun langkahnya
terhenti oleh ponselnya yang berdering.
~~
~ ~~
Hari
ini Andre memintaku untuk mengantarkannya di airport. Tak terasa airnmataku
jatuh di pipiku. Dia berusaha menyeka airmataku dengan tangannya.
“Tunggu
aku ya, sahabatku yang manja. Aku bakal embali buat kamu 4 tahun lagi.” Ucapnya
seraya mencolek pipiku.
“Ehh..
Lama banget sih. Tapi sering-sering kirim emailya?” Jawabku manja.
“Siap,
Dokter. Hahahaha” Jawabnya dengan menjabat tanganku.
“Udah
ah. Pesawat kamu udah mauberangkat loh. Bye temanku.” Kataku sambil
mengacak-ngacak rambutnya lagi.
“Iya
ya deh. Jaga diri kamu baik baik ya?” Pesannya.
Sip
deh..“ jawabku.
Dan
kulihat dia semakin menjauh, jauh dan tak terlihat lagi.
To be Continued ...

2 komentar:
da tutor mu gae blogg ko ndie....? bagi donk....!
aku cuma coba coba,ak
Posting Komentar