Nah... ini merupakan cerpen pertama gw waktu masih kelas satu SMA nihh.. Tau dah ceritanya ga jelas gitu. *kalo.ga.jelas.kok.diposting??*
Tapi, gw berharap kritikan dan saran dari temen-temen semua biar pemikiran gw tambah maju nihh.... ok, kyaknya gw kebanyakan ngomong dahh..
Happy Reading :D
PENGORBANAN SAHABAT
“Pagi duniaku!”sapa Chacha di depan jendelanya. Hal yang selalu diucapkan oleh
Chacha setiap pagi di jendela di setiap paginya. Mungkin menurut orang lain itu
aneh, namun tidak untuk Chacha. Dia seorang gadis remaja yang mengidap
leukimia. Chacha harus di rumah setiap hari karena kekhawatiran orangtuanya
terlalu berlebihan sehingga menyebabkan Chacha tak memiliki teman. Ia kesepian
oleh hal itu.
“Chacha, ayo
sarapan sayang. Nanti maag kamu kambuh lho.”
panggil Mama Chacha.
“Ya,ma. Bentar lagi Chacha turun kok.” Jawab Chacha.
Chacha segera beranjak dari tempatnya menuju meja makan yang telah tersedia
makanan tersusun rapi.
“Chacha,
nanti jam 8 kamu harus check up ke Dokter Zakky lagi. Dan jangan lupa nanti
habis makan minum obatnya. Mama masih usahain nyari pendonor sumsum tulang
belakang yang cocok buat kamu. Kamu sabar ya,sayang?” ucap Mama Chacha panjang
lebar.
“Aduh,Ma. Kan Chacha dah bilang Mama nggak usah repot-repot nyari pendonor buat
Chacha. Chacha nggak apa-apa kok,Ma. Kalau pun Allah emang mau ngambil Chacha
nggak apa-apa.” Jawab Chacha.
“Husy…..Sayang, kamu jangan ngomong gitu lagi. Nggak baik, Mama nggak mau
kehilangan orang yang Mama sayangi lagi setelah kematian Papa kamu,Chacha.”
Jelas Mama Chacha dengan terisak.
“Ma, maafin Chacha ya kalau perkataan Chacha tadi menyinggung Mama. Chacha
janji akan selalu dengerin nasihat Mama dan ngikutin perintah Mama lagi.” hibur
Chacha seraya mengusap airmata Mamanya.
“Terima kasih,sayang. Mama janji nggak akan biarin kamu tersiksa akan penyakit
kamu.” Kata Mama Chacha tersenyum.
“Makasih juga,Mama.” Kata Chacha dan memeluk Mamanya.
~~~ ~~~
Sesampainya
di rumah sakit Chacha menemui dokter pribadinya.
“Jadi, gimana hasil check up-nya,dok?” tanya Mama Chacha.
“Kita harus segera menemukan pendonor yang cocok buat Chacha. Jika tidak,
harapan hidup untuk Chacha akan semakin menipis. Saya harap ibu bisa tabah dan
mengerti.” Jelas Dokter.
“Saya akan usahakan,dok. Tapi apa benar sumsum tulang belakang saya tidak cocok
buat Chacha,dok?” tanya Mama Chacha.
“Ya,Bu. Meskipun Chacha anak kandung ibu namun belum tentu itu cocok.” Jawab
Dokter.
“Kalau begitu terimakasih,dok. Saya akan dapatkan pendonor yang cocok untuk
Chacha.” Kata Mama Chacha.
“Ya, Bu. Saya turut berdoa.” Kata Dokter.
“Terima kasih. Permisi,dok.” Kata Mama Chacha.
Di luar ruangan dalam mobil Chacha menunggu mamanya yang bertemu dengan dokter
setelah check up. Tiba-tiba perhatiannya dialihkan oleh seorang pelajar
laki-laki dengan seragam SMA. Dan entah mengapa Chacha berteriak memanggil anak
itu dan keluar dari mobil menemui anak tersebut. Anak yang dipanggil pun
menghentikan langkahnya merasa bahwa dirinya dipanggil seseorang.
“Kamu manggil aku?” tanya anak tersebut.
“Iya, kenalin namaku Chacha umur
15 tahun. Kamu siapa? Boleh aku jadi teman kamu?” tanya Chacha dengan
mengulurkan tangan kanannya.
“Hahahah... Kamu lucu ya?” jawab anak tadi.
“Kok ketawa sih? Apa yang lucu coba?
Perasaan biasa aja.” Tanya Chacha
dengan polosnya.
“Nggak kok. Kenalin aku Andi anak SMA 2, umurku 16 tahun. Kamu sekolah dimana?”
jawab Andi.
Mendengar jawaban Andi, Chacha menunduk sedih dan hanya terdiam.
“Kok kamu jadi sedih? Aku salah ngomong ya? Maaf deh.” Tanya Andi.
“Aku cuma ikut homeschooling.
Aku dilarang Mamaku buat sekolah di luar kayak anak-anak biasa. Aku juga pengen
punya teman. Aku kesepian.” Ratap Chacha.
“Maaf kalo aku bikin kamu jadi sedih. Btw, ngapain kamu nggak dibolehin sekolah
diluar?” tanya Andi.
“Aku... aku.. kena...” jawab Chacha terbata-bata.
Belum sampai
Chacha meneruskan kalimatnya. Terdengar suara mamanya yang sedang mencarinya.
“Ayo,
sayang. Kita harus cepat-cepat pulang. Kamu perlu istirahat banyak dan jangan
sampai kecapekan. Lho, ini siapa?” Tanya Mama Chacha yang baru menyadari
kehadiran Andi.
“Saya
Andi,Tante. Temannya Chacha.” Jawab Andi.
“Oh,
ngobrolnya diterusin lain kali aja ya,Andi. Kamu bisa kok main ke rumah Chacha.
Ini kartu nama Tante. Kalau datang pas sore aja ya?” kata Mama Chacha dengan
menyodorkan sebuah kartu nama.
“Ya,Tante.
Terima kasih.” Kata Andi.
Setelah
memberikan kartu namanya Mama Chacha segera meninggalkan Andi dengan mobil
hitamnya disertai lambaian tangan mungil Chacha di jendela mobil.
“Jangan lupa
main ke rumahku, ya?” ajak Chacha.
“Ok, aku
bakal main ke rumahmu kok. Makasih,ya?” teriak Andi dengan melihat mobil yang
ditumpangi Chacha mulai menghilang dari pandangannya.
~~~ ~~~
Sore
harinya, Andi benar-benar datang ke rumah Chacha. Tentu saja Mama Chacha
menyambutnya dengan hangat karena dia senang anaknya bisa mempunyai teman
meskipun anak laki-laki. Setelah Chacha dipanggil, Mama Chacha menyiapkan
camilan untuk mengobrol bersama. Sambil menunggu Chacha turun dari kamarnya,
Mama Chacha bercerita tentang Chacha.
“Ehm... nak
Andi, boleh saya minta sesuatu?” tanya Mama Chacha.
“Kalau saya
bisa tentu saja boleh,Tante.” Jawab Andi dengan ramah dan sipan.
“Tolong
jangan kamu sakiti Chacha, buat dia merasa bahagia memiliki teman sepertimu. Karena Chacha
semakin hari semakin lemah.” Jawab Mama Chacha.
“Maksud
Tante kalau Chacha semakin lemah apa,Tante? Tolong jangan membuat saya
bingung.” Ucap Andi dengan bingung.
“Sebenarnya
Chacha mempunyai penyakit leukimia yang sudah akut. Jika tidak segera ditemukan
pendonor yang cocok dengannya, hidupnya tinggal beberapa minggu lagi. Tante
sudah mencari kemana-mana pendonor yang cocok dengannya tapi hasilnya nihil.
Bahkan Tante sendiri tidak cocok dengannya. Tante hampir putus asa, Tante takut
kehilangan orang yang Tante sayangi sekali lagi. Karena Chacha adalah anak
semata wayang saya.” terang mama Chacha panjang lebar.
“Kehilangan
sekali lagi? Maksud Tante apa?” tanya andi lagi.
“Baru tiga
bulan lalu ayah Chacha meninggal karena tertembak saat menjalankan tugasnya di
luar Jawa. Ayah Chacha adalah seorang Jendral. Namun, saat diperiksa juga
sumsum tulang belakang Papa Chacha juga tidak cocok.” Cerita Mama Chacha yang
semakin terdengar isakan tangisnya.
“Kalau
begitu saya janji,Tante. Akan ikut membantu mencari pendonor yang tepat bagi
Chacha.” Ucap Andi serius.
“Terima
kasih,Nak Andi. Kamu benar-benar baik sekali.” Kata Mama Chacha.
“Wah.. ...
kayaknya aku ketinggalan ngobrol nih.” Ucap Chacha dengan memakai kerudung
putih tiba-tiba seraya mendekati Mamanya dan Andi.
“Hehhehe...iya,sayang.
Ehm... Mama ke dapur dulu ya,sayang. Mau masak buat makan malam nanti. Saya
tinggal dulu ya,Nak Andi.” Kata Mama meminta izin pergi.
“Iya,Tante.”
Jawab Andi.
Setelah
kepergian Mama Chacha mereka berbicara banyak tentang sekolah Andi. Andi
berusaha mungkin untuk tidak menyinggung perasaan Chacha tentang penyakit
Chacha. Setelah pukul 5 sore Andi pun izin pulang.
“Tante, saya
pamit dulu dan terima kasih atas waktu dan camilannya. Heheheh....” pamit Andi.
“Ya,
seharusnya Tante yang makasih ke kamu karena kamu mau menjadi teman Chacha.
Lain kali main lagi,ya?” ajak Mama Chacha.
“Insya Allah
kalau ada waktu,Tante. Chacha, aku duluan yah?” kata Andi dengan melihat
senyuman Chacha di balik kerudung putih yang melekat di kepalanya.
“Ya,
hati-hati,ya” jawab Chacha dengan tersenyum.
Andi pun
pulang dengan motornya bertolak menuju rumahnya.
~~~ ~~~
“Kriiiiing....”
Terdengar
suara telepon dari ruang tengah. Dengan segera Mama Chacha beranjak
meninggalkan tempat duduknya dan Chacha yang sedang menonton tv.
“Apa,dok?
Apa Anda sungguh-sungguh? Baik saya akan segera menuju kesana.” Kata Mama yang
menjawab telpon.
Mamanya pun
kembali ke tempat semula setelah menutup telponnya.
“Ada apa
sih,Ma. Kok kayaknya tadi serius banget?” tanya Chacha penasaran.
“Chacha, ayo
sekarang kamu siap-siap. Besok kamu harus melakukan operasi . Dokter Zakky
sudah menemukan pendonor yang cocok dengan kamu.” Ajak Mamanya.
“Apa
benar,ma? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Kayaknya Chacha harus kasih tau
Andi ya,Ma?” ucap Chacha.
“Boleh juga.”
Jawab Mamanya singkat.
Namun,
berkali-kali Chacha mencoba menelpon Andi tidak ada jawaban.
“Nggak
diangkat,Ma.” Ucap Chacha sedih.
“Sudah nggak
apa-apa. Ayo, kita kemas-kemas dulu buat persiapan ke rumah sakit. Mulai malam
ini kamu harus menginap di rumah sakit untuk persiapan operasi.” Hibur Mama
Chacha.
“Ya,ma.”
Jawab Chacha dengan tersenyum.
~~~ ~~~
Keesokan
harinya, setelah Chacha menjalani operasi. Chacha ingin mengetahui siapa orang
yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuknya.
“Kamu nggak
perlu tahu siapa dia,sayang.”
“Ayolah,Ma.
Siapa dia? Chacha kan pengen tau, dia udah berarti buat Chacha,Ma.
“Baiklah,
kalau kamu memaksa. Besok Mama ajak kamu bertemu dengannya. Asalkan kamu bisa
bersabar,sayang.” Jawab Mama Chacha.
“Ok,Ma.
Makasih Mama.” Kata Chacha.
“Ya,sayang”
jawab Mama Chacha dengan tersenyum.
~~~ ~~~
Malamnya
Chacha dilanda kekhawatiran karena setelah dia operasi tak terdengar kabar sama
sekali tentang Andi. Dan dia juga penasaran dengan pendonornya. Chacha tak
sabar menunggu pagi segera datang. Dan akhirnya Chacha pun terlelap dalam
mimpinya. Di mimpinya ia bertemu dengan Andi memakai baju serba putih tersenyum
menjauh darinya. Chacha berusaha mengejarnya, namun lama kelamaan bayangan itu
hilang.
“Tidaaaaaaaaaaakkkkkk....”
teriak Chacha bangun dari tidurnya, dia sadar bahwa itu hanya mimpi dan
terdengar adzan subuh telah
memanggilnya untuk menjalankan sembahyang subuh.
~~~ ~~~
Jam 7 pagi,
Mama Chacha mengajak Chacha ke pemakaman umum tidak jauh dari rumah sakit
tempat Chacha dirawat.
“Kok kita ke
sini,Ma?” tanya Chacha.
“Di sini,
kamu akan tahu semua,sayang.” Jawab Mama Chacha sambil mendekati sebuah batu
nisan yang masih baru dan bertuliskan “ MUHAMMAD HAFIDZ ANDIANSYAH “.
Chacha
melihat tersebut terkejut melangkah mundur
dan menangis.
“Nggak
mungkin... ini pasti bukan Andi.” Kata Chacha tidak percaya.
“Sayang,
kamu harus menerima kenyataan. Setelah pulang dari rumah kita tempo hari yang
lalu, dia tertabrak truk dan saat dibawa ke rumah sakit keadaan Andi sangat
parah. Sebelum dia meninggal dia mendonorkan sumsum tulang belakangnya yang
kebetulan cocok buat kamu. Kamu harus
tabah,sayang. Meski dia sudah tak di dunia lagi, kamu tetap bisa mengenangnya.
Dia sudah menyatu di tubuhmu dengan adanya sumsum tulang belakang darinya.”
Jawab Mamanya menyesal akan semua hal ini.
“Ya,Ma.
Chacha akan berusaha untuk menerima ini semua meski sulit. Terima kasih Andi, kamu begitu
berarti dalam hidupku.Aku akan selalu mengingatmu kapanpun,Andi. Aku sangat
menyayangimu, kamulah sahabat terbaikku.” Ucap Chacha sambil menahan tangisnya.
“Ayo,sayang
kita pergi hari sudah naik nih,” ajak Mama Chacha.
“Ya,Ma.
Andi, aku duluan ya. Aku akan ke sini tiap hari buat kamu. Thank for all,Andi.”
Ucap Chacha sebelum pergi.
~~~ ~~~
Sejak saat
itu, setiap minggu Chacha selalu pergi ke pemakaman dengan membawa setangkai
mawar yang akan ditaruh di pusara Andi, dimana tempat Andi di berbaring dengan tenang. Dan akhirnya Chacha bisa
menjalani kehidupannya seperti orang normal lainnya.
“Because of
you,Andi. I can live again. Thanks.” Ucap Chacha dengan tersenyum suatu ketika
di saat ia bisa dengan sekolah normal. Dan Chacha
mampu hidup lebih lama lagi karena pengorbanan Andi. Dan karena Andi juga ia
mempunyai semangat hidup yang tinggi. Menyambut masa depan dengan lebih cerah.
“Ya,ma. Bentar lagi Chacha turun kok.” Jawab Chacha.
~~~ ~~~
~~~ ~~~
~~~ ~~~
~~~ ~~~
~~~ ~~~
Jam 7 pagi, Mama Chacha mengajak Chacha ke pemakaman umum tidak jauh dari rumah sakit tempat Chacha dirawat.
~~~ ~~~


0 komentar:
Posting Komentar